Rabu, 18 Juli 2007

Dimana Ayah...

Sepasang kaki putih mungil berjalan sedikit tergesah sambil meloncat-loncat kecil dengan gembira, melangkah mengikuti langkah kaki yang menapak mantap didepannya menjejaki jalan kecil menuju pegunungan, sesekali kaki mungil itu tersentuh rerumputan yang tumbuh ditepian jalan setapak. Sosok yang memiliki sepasang kaki yang berjalan didepannya tak sedikitpun memegang tangan pemilik kaki mungil itu. Seakan-akan tidak mengkhawatirkan apa yang akan dialami sepasang kaki mungil itu dalam perjalanan mendaki gunung...

Sepanjang perjalanan mata sipit pemilik kaki mungil itu terus menatap punggung milik sosok yang berjalan didepannya, walaupun pemandangan disekelilingnya sangat indah namun tak menjadi perhatiannya, bahkan ia merasa punggung itu lebih dari segalanya. Jelas sekali tersirat dimata sipit itu ketakutan jika punggung itu berlalu dengan cepat dan tak akan terlihat lagi. Dengan mata terus menatap kedepan, tanpa memperhatikan langkahnya, kaki mungil itu semakin cepat melangkah hingga tersandung akar pohon dan jatuh.

“Aduhh!” jeritan nyaring dari bibir merah yang mungil memecah keheningan suasana pegunungan. Gadis kecil pemilik wajah bulat itupun terkejut, ketika ia mendengar suara dikejauhan menirukan teriakannya persis sama, “Aduhh!”.

Gadis kecil berambut lurus itupun kembali berteriak, “Hei! Siapa Kamu?” Jawaban yang terdengar, “Hei! Siapa Kamu?” Lantaran kesal mengetahui ucapannya selalu ditirukan, ia kembali berseru, “Sini Kalau Berani!” lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa.

Ternyata dari kejauhan diam-diam sesosok laki-laki separuh baya yang tadi berjalan didepan gadis kecil itu telah memperhatikan dan mulai mendekat. Dengan penuh kearifan lelaki itu tersenyum dan membungkuk lalu menggenggam erat kedua tangan mungil gadis kecil itu, “Anakku, coba peratikan”. Kemudian lelaki itu berkata dengan keras, “Ayah sayang padamu!” suara dikejauhan menjawab, “Ayah sayang padamu!” sekali lagi sang ayah berteriak “Kau Putri kecilku!” suara itu menjawab, “Kau Putri kecilku!”.

Gadis kecil itu sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah menjelaskan, “Suara itu adalah GEMA, tapi sesungguhnya itulah KEHIDUPAN”.

Kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakanmu. Dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita. Bila kamu ingin mendapatkan lebih banyak cinta didunia ini, ya ciptakan cinta didalam hatimu. Bila kamu menginginkan tim kerjamu punya kemampuan tinggi, ya tingkatkan kemampuan itu. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kau berikan kepadanya. Ingat putri kecilku, hidup bukanlah sebuah kebetulan tapi sebuah bayangan dirimu.

Kemudian gadis kecil itu tersenyum melihat tangannya digenggam erat oleh ayahnya, lalu ia bertanya “ayah, kenapa saat berjalan ayah tidak menggenggam tanganku?” Ayahnya menjawab “Karena suatu saat kau harus berjalan sendiri nak, tanpa ayah..”

Mata sipit gadis kecil itu berkaca dan menggenggam lebih erat tangan ayahnya, namun semakin erat genggaman itu, semakin gadis kecil itu tidak merasakan apa yang digenggamnya... debar jantungnya semakin cepat, kepanikan mulai muncul, dan tak percaya apa yang dilihatnya. Sosok yang ia panggil ayah perlahan memudar dan menghilang bagai kabut ditiup angin.

“Ayah..!! Ayah dimana!!??” Suara kecil melengking bergetar penuh kepanikan kembali memecah keheningan suasana pegunungan itu. “Ayah..!! Ayah dimana!!??” hanya itu jawaban yang didapatnya. Tangisan di hati tanpa erangan membuahkan uraian air mata membasahi pipi pada wajah yang berharap lebih lama merasakan nyamannya genggaman tangan sang ayah...

Semakin kencang dan cepat teriakan “Ayah..!! Ayah dimana!!??” yang keluar dari bibir merah mungil itu membuat hatinya semakin galau mendengar gema teriakan yang susul menyusul “Ayah..!! Ayah dimana!!??” ... “Ayah..!! Ayah dimana!!??” ... “Ayah..!! Ayah dimana!!??” ...

Hari mulai gelap saat gadis kecil itu mulai memahami ucapan terakhir ayahnya, dalam hati ia berkata “mungkin kinilah saatnya aku harus berjalan sendiri”. Langkah kaki mungil itupun berjalan pulang terseret dan lemah tidak seperti saat pergi.

Keesokan harinya, gadis kecil itu datang kembali kegunung berharap bertemu dengan ayahnya. Namun diperjalanan ia kembali tersandung akar pohon dan dengan sengaja ia berteriak “Ayah.. aku terjatuh!! Tidakkah Ayah ingin menggenggam tanganku???” namun hanya gema ucapannya yang terdengar. Mata sipitnya berkaca berharap dapat kembali melihat punggung yang selalu berada didepannya. Sampai hari mulai gelap apa yang diharapkannya tak kunjung tiba...

Hari selnjutnya, gadis kecil itu kembali kegunung, namun kali ini ia tidak lagi tersandung akar pohon namun kadangkala masih tersandung batu atau terperosok kedalam lubanng tapi ia tidak menangis, sesekali ia masih sering berteriak “Ayah..!! Ayah dimana!!??...” berharap masih ada keajaiban untuknya. Begitupula dengan hari-hari lain selanjutnya sampai akhirnya teriakan “Ayah..!! Ayah dimana!!??” yang sering ia serukan berubah dengan teriakan “Ayah.. aku tidak tersandung akar pohon, batu atau terperosok ke lubang lagi!!” namun tetap tak ada jawaban.

Tahukah kamu siapa gadis kecil yang merindukan ayahnya itu? Gadis kecil itu adalah aku...

Kini gadis kecil itu telah menjadi sosok gadis dewasa yang matang, karena lebih dari sekedar akar pohon, batu bahkan lubang yang ia temui dan saat ia terjatuh samasekali ia tidak menangis dan berteriak lagi “Ayah..!! Ayah dimana...!!??”.

Namun jauh didalam hatinya ia masih sangat mengharapkan genggaman erat tangan ayahnya...

Kini gadis itu tidak lagi menyusuri jalan setapak mendaki gunung untuk mencari bayangan ayahnya, tetapi kini ia tahu dimana ia dapat menemui bayangan ayahnya, ia selalu menelusuri jalan setapak diantara batu nisan-batu nisan yang tersusun rapih dan sesekali kaki putihnya masih terlihat bersentuhan dengan rerumputan tetapi bukan dipegunungan melainkan rerumputan yang tumbuh disela-sela bunga kamboja dimana tempat ayahnya kini bersemayam...

“Ayah, gadis kecilmu rindu padamu...”

Selasa, 17 Juli 2007

Ceritaku..

Gini ceritanya...
Malu deh kalo kita ditegur sama dosen dikelas...
yah,, tapi apa boleh buat semua sudah terjadi..
oya, btw seumur hidup ini yang ke-dua lho.. Hwakakak (bangga!!). Dulu yang pertama waktu aku masih SMA, aku setu bangku sama temenku -namanya Maya- temen akrab gitu deh.. Waktu itu lagi pelajaran Fisika trus aku sama Maya boseeeen banget + ngantuk trus,, terjadilah surat menyurat antara aku ma Maya (surat-syratannya pake buku gitu!) ternyata guruku ngeliat "atraksi kami"!!! dan tiba-tiba....
Suatu benda berserbuk alias penghapus papan tulis melayang kearah jidat mulus Maya...TUK!!!... kayanya sih lumayan sakit, tapi kalo sakitnya sih ga seberapa tapi malunya itu lho... yang bikin suasana hati tiba-tiba pengen bertapa 40 hari di gua terlarang!! (Hiks! malu banget).
Huuuh... aku sedikit lega dalam hati bilang "untung bukan jidatku..." tapi.. O'ooo guruku mendekat dan merampas buku yang tadi jadi media surat-suratan!
"Oh,, Tuhan... Ampunilah dosa-dosaku" dalam hati aku berteriak saat guruku membaca tulisan kami...
Lha, gimana aku ga uring-uringan... soalnya sebagian besar isi surat itu ya tuliasnku, mana aku gosipin gurunya lagi....Dhubrakh!! deh pokoknya... Oh, Maya seandainya bisa tukeran nasib aku mending yang kebagian dilempar penghapus deh.. dari pada diboyong tanpa hormat keruang kepsek... uhuk-uhuk!

Beberapa tahun kemudian....

Ga nyangka bener kalo tragedi itu datang kembali...

Senin, 02 Juli 2007

Slamat Datang..

Assalammualaikum..


Huuu,, akhirnya tiba juga hari ini,,
hari dimana aku bisa membahagiakan salah seorang temanku ('dia' nya sih yang pengen banget jadi temenku! Huwakakak!!) yang sangat pengen liat blog ku diedit.. katanya dia pusing kalo tiap kali mengunjungi blog ku yang dia baca cuma " hi.. teman-teman,,, slamat datang..."
bagiku kata-kata itu "nyeni" banget!!

Oya, temenku ini guanteng ra ketulungan, apik'an, pinter ber-pose.. pokoknya fotogenik deh! ntar deh aku liatin koleksi foto-fotonya, penasaran kan???

Hsssstttt, btw aku sayang banget sama dia, setiap hari aku maki-maki, aku fitnah, aku enyek, aku caci, aku panggil ra mutu, kalo nyontek aku kasih jawaban yang salah,,,Hmmm hubungan kami sangat harmonis! karena itulah bahasa kasih sayang kami,,,

Suatu hari, kami belajar kelompok,, dia sangat perhatian sama aku, aku tersanjung.. saking sayangnya dia sama aku,, laptopku dikirimi virus-virus yang sangat membahayakan.. (maklumlah dia ternak virus..) hwakak!!

pra s2

Pusing....

Lucu kalau memperhatikan wajah-wajah teman sekelasku, termasuk wajahku (lha gimana merhatiinnya??),,, apalagi pas hari selasa pagi :(
memag berat sih aku rasakan selama kurang lebih 2 bualan ini, jadwal yang padat, tugas-tugas yang bejibun, susul menyusul..
tapi...
Semua itu alhamdulillah bisa aku lewati sampai saat ini, teman yang baik... ya teman yang baik,, itu semua berkat teman-teman sekelasku yang baik-baik (uhukh..terharu). Aku ga bisa bayangkan kalau nanti diantara kami ada yang tereliminasi di kelas Pra-S2 ini... dan... aku lebih ga bisa bayangkan.. dan ga bisa fikirkan.. dan ga bisa katakan.. dan ga bisa...semuanya!!! kalau ternyata yang tereliminasi tersebut adalah diriku...uhukh, uhukh, (maaf kata-katanya terputus-putus, pura-puranya terbatah-batah).
Teman,,, kalau suatu saat nanti kalian sukses berat, jangan lupakan diriku kapanpun dan dimanapun kalian berada... tapi kalau ternyata diriku yang sukses,, kayanya gue ga bisa jamin deh bakal inget kalian..bhuzheeth! makanya baik-baikin lah diriku dari sekaran...OK!