Sepasang kaki putih mungil berjalan sedikit tergesah sambil meloncat-loncat kecil dengan gembira, melangkah mengikuti langkah kaki yang menapak mantap didepannya menjejaki jalan kecil menuju pegunungan, sesekali kaki mungil itu tersentuh rerumputan yang tumbuh ditepian jalan setapak. Sosok yang memiliki sepasang kaki yang berjalan didepannya tak sedikitpun memegang tangan pemilik kaki mungil itu. Seakan-akan tidak mengkhawatirkan apa yang akan dialami sepasang kaki mungil itu dalam perjalanan mendaki gunung...
Sepanjang perjalanan mata sipit pemilik kaki mungil itu terus menatap punggung milik sosok yang berjalan didepannya, walaupun pemandangan disekelilingnya sangat indah namun tak menjadi perhatiannya, bahkan ia merasa punggung itu lebih dari segalanya. Jelas sekali tersirat dimata sipit itu ketakutan jika punggung itu berlalu dengan cepat dan tak akan terlihat lagi. Dengan mata terus menatap kedepan, tanpa memperhatikan langkahnya, kaki mungil itu semakin cepat melangkah hingga tersandung akar pohon dan jatuh.
“Aduhh!” jeritan nyaring dari bibir merah yang mungil memecah keheningan suasana pegunungan. Gadis kecil pemilik wajah bulat itupun terkejut, ketika ia mendengar suara dikejauhan menirukan teriakannya persis sama, “Aduhh!”.
Gadis kecil berambut lurus itupun kembali berteriak, “Hei! Siapa Kamu?” Jawaban yang terdengar, “Hei! Siapa Kamu?” Lantaran kesal mengetahui ucapannya selalu ditirukan, ia kembali berseru, “Sini Kalau Berani!” lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa.
Ternyata dari kejauhan diam-diam sesosok laki-laki separuh baya yang tadi berjalan didepan gadis kecil itu telah memperhatikan dan mulai mendekat. Dengan penuh kearifan lelaki itu tersenyum dan membungkuk lalu menggenggam erat kedua tangan mungil gadis kecil itu, “Anakku, coba peratikan”. Kemudian lelaki itu berkata dengan keras, “Ayah sayang padamu!” suara dikejauhan menjawab, “Ayah sayang padamu!” sekali lagi sang ayah berteriak “Kau Putri kecilku!” suara itu menjawab, “Kau Putri kecilku!”.
Gadis kecil itu sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah menjelaskan, “Suara itu adalah GEMA, tapi sesungguhnya itulah KEHIDUPAN”.
Kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakanmu. Dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita. Bila kamu ingin mendapatkan lebih banyak cinta didunia ini, ya ciptakan cinta didalam hatimu. Bila kamu menginginkan tim kerjamu punya kemampuan tinggi, ya tingkatkan kemampuan itu. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kau berikan kepadanya. Ingat putri kecilku, hidup bukanlah sebuah kebetulan tapi sebuah bayangan dirimu.
Kemudian gadis kecil itu tersenyum melihat tangannya digenggam erat oleh ayahnya, lalu ia bertanya “ayah, kenapa saat berjalan ayah tidak menggenggam tanganku?” Ayahnya menjawab “Karena suatu saat kau harus berjalan sendiri nak, tanpa ayah..”
Mata sipit gadis kecil itu berkaca dan menggenggam lebih erat tangan ayahnya, namun semakin erat genggaman itu, semakin gadis kecil itu tidak merasakan apa yang digenggamnya... debar jantungnya semakin cepat, kepanikan mulai muncul, dan tak percaya apa yang dilihatnya. Sosok yang ia panggil ayah perlahan memudar dan menghilang bagai kabut ditiup angin.
“Ayah..!! Ayah dimana!!??” Suara kecil melengking bergetar penuh kepanikan kembali memecah keheningan suasana pegunungan itu. “Ayah..!! Ayah dimana!!??” hanya itu jawaban yang didapatnya. Tangisan di hati tanpa erangan membuahkan uraian air mata membasahi pipi pada wajah yang berharap lebih lama merasakan nyamannya genggaman tangan sang ayah...
Semakin kencang dan cepat teriakan “Ayah..!! Ayah dimana!!??” yang keluar dari bibir merah mungil itu membuat hatinya semakin galau mendengar gema teriakan yang susul menyusul “Ayah..!! Ayah dimana!!??” ... “Ayah..!! Ayah dimana!!??” ... “Ayah..!! Ayah dimana!!??” ...
Hari mulai gelap saat gadis kecil itu mulai memahami ucapan terakhir ayahnya, dalam hati ia berkata “mungkin kinilah saatnya aku harus berjalan sendiri”. Langkah kaki mungil itupun berjalan pulang terseret dan lemah tidak seperti saat pergi.
Keesokan harinya, gadis kecil itu datang kembali kegunung berharap bertemu dengan ayahnya. Namun diperjalanan ia kembali tersandung akar pohon dan dengan sengaja ia berteriak “Ayah.. aku terjatuh!! Tidakkah Ayah ingin menggenggam tanganku???” namun hanya gema ucapannya yang terdengar. Mata sipitnya berkaca berharap dapat kembali melihat punggung yang selalu berada didepannya. Sampai hari mulai gelap apa yang diharapkannya tak kunjung tiba...
Hari selnjutnya, gadis kecil itu kembali kegunung, namun kali ini ia tidak lagi tersandung akar pohon namun kadangkala masih tersandung batu atau terperosok kedalam lubanng tapi ia tidak menangis, sesekali ia masih sering berteriak “Ayah..!! Ayah dimana!!??...” berharap masih ada keajaiban untuknya. Begitupula dengan hari-hari lain selanjutnya sampai akhirnya teriakan “Ayah..!! Ayah dimana!!??” yang sering ia serukan berubah dengan teriakan “Ayah.. aku tidak tersandung akar pohon, batu atau terperosok ke lubang lagi!!” namun tetap tak ada jawaban.
Tahukah kamu siapa gadis kecil yang merindukan ayahnya itu? Gadis kecil itu adalah aku...
Kini gadis kecil itu telah menjadi sosok gadis dewasa yang matang, karena lebih dari sekedar akar pohon, batu bahkan lubang yang ia temui dan saat ia terjatuh samasekali ia tidak menangis dan berteriak lagi “Ayah..!! Ayah dimana...!!??”.
Namun jauh didalam hatinya ia masih sangat mengharapkan genggaman erat tangan ayahnya...
Kini gadis itu tidak lagi menyusuri jalan setapak mendaki gunung untuk mencari bayangan ayahnya, tetapi kini ia tahu dimana ia dapat menemui bayangan ayahnya, ia selalu menelusuri jalan setapak diantara batu nisan-batu nisan yang tersusun rapih dan sesekali kaki putihnya masih terlihat bersentuhan dengan rerumputan tetapi bukan dipegunungan melainkan rerumputan yang tumbuh disela-sela bunga kamboja dimana tempat ayahnya kini bersemayam...
“Ayah, gadis kecilmu rindu padamu...”
